EL SAQUEO CULTURAL DE AMERICA LATINA FERNANDEZ BAEZ PDF

New releases in History/Latin America . Jeffrey D. (); El Saqueo Cultural De America Latina/ The Cultural Plunder Of Latin American: De La Conquista A. The period of Conquest of Latin America and the Caribbean – roughly .. [1] Fernando Baez, El saqueo cultural de América Latina, Random. Báez is considered a world authority on the history of libraries. From the plundering of the cultural heritage of all Latin America beginning in the sixteenth .

Author: Samugrel Voodooktilar
Country: Cape Verde
Language: English (Spanish)
Genre: Photos
Published (Last): 12 October 2017
Pages: 221
PDF File Size: 19.85 Mb
ePub File Size: 6.46 Mb
ISBN: 949-1-48465-180-2
Downloads: 89369
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Daiktilar

Spanish Monographs in: Global Studies Directory

Goodreads helps you keep track of books you want to read. Want to Read saving….

Want to Read Currently Reading Read. Refresh and try again.

A Universal History of the Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern-Day Iraq

Open Preview See a Problem? Thanks for telling us about the problem. Return to Book Page. A Universal History of the Destruction of Books: A product of ten years of research and support from leading American and European universities, “A Universal Saqyeo of the Destruction of Books” traces a fenrandez story: With diligence and grace, Baez mounts baeez compelling investigation into the motives behind the destruction of books, reading man’s violence against writing as a perverse anti-creation.

Hardcoverpages. De las tablillas sumerias a la guerra de Irak. To see what your friends thought of this book, please sign up. To ask other readers questions about A Universal History of the Destruction badz Booksplease sign up.

Lists with This Book. This is an incredible book, too overwhelming latlna read cover to cover, and it took me two months to read it. I stopped when I started to cry, which happened more than I expected. For this is the story of libraries and books from ancient times up to Iraq in the last decade, and their destruction, by fire, by war, by censorship, by librarians, and by worms.

Rough reading, but Fernando Baez, bqez director of Venezuela’s National Library, amerlca an amazing job researching the details and the saqufo. This This is an incredible book, too overwhelming to read cover to cover, and it took me two months to read it.

This will go directly to saquro librarian office in my library. I think it should be required reading in library school, and moreso for people who are making decisions in times of war.

Donald Rumsfeld, that comment is for you, you whose only response to the lootings and destruction in Baghdad was to say that “Freedom’s untidy. Biblophagy – eating book to gain esoteric wisdom.

Apparently mentioned twice in the Bible! View all 4 comments. May 18, Biblio Curious rated it it was amazing Shelves: This is the densest book ever Baez packed a tonne of research into the teeniest pocket novel possible. It’s basically a laundry list of cultural losses since the invention of writing, so you can imagine how many references are in here. He supplies a tonne of information but he also includes enough whys and the significance of the loss to keep the book alive. It’s never a dry or dusty read.

For example, This is the densest book ever For example, in modern history when WWII cultuural, he covers how many books were lost to us and concludes with the the library destroyed along with Nagasaki.

It’s a gut wrenching read because of how much we lost due to war, ideology, ignorance, fire and insects. View all 7 comments. Throughout human history, apparently we burn things easily with various justifications. Books suffered most, maybe because human in each civilisations unable to handle the knowledge and when things scared you just burn them all. Defenitely not a fun reading, but necessary and amazing one.

I wonder if there were no burning, fires, or other destructions occurred -all the manuscripts survived- where will we put them? Presumably in the Borges’ Library of Babel you reckon? Jul baex, Paula M. Uma obra grandiosa que exigiu uma pesquisa intensa. Fica-se a pensar no quanto desconhecemos hoje devido ao desaparecimento de tantos e tantos registos Sep 10, Ed rated it really liked it Recommends it for: You know, the title pretty much says it all.

  LAGEMAAT THEORY OF KNOWLEDGE PDF

And it’s chronological, so you start way back when, in the days when “books” were cuneiform on mud tablets. Many of those survived centuries ameica being destroyed at last. So it seems rather remote, I mean, who wouldn’t have wanted to visit the fabled library at Alexandria? And the book is written in small sections, so you move along from place to place and time to time, cataloging the fernansez that were ransacked, destroyed, or most often burned.

And you move through the centuries.

Fernando Báez

Within the lifetime of people still alive, on top of the loss of life, the destruction of cultures, lands, and properties, there is an immense loss of books–including priceless manuscripts and rare copies–victims of the war.

From there on the book just got worse, because in our “modern” world, books are destroyed by the tens, the hundreds of thousands. Indeed, there is a brief chapter devoted to less sentient enemies of books: The book closes with a zinger of a final sentence.

Welcome to the 21st century–is the future brighter, or should we look forward to more of the same? Buku yang merupakan hasil penelitian Fernando Baez, seorang pakar perbukuan Venezuela selama 12 tahun ini memaparkan sejarah penghancuran buku berdasarkan kronologi waktu yang dibagi dalam tiga bagian, mulai dari jaman Dunia Kuno, dari Byzantium hingga abad ke 19, dan dari abad ke 20 Hingga Sekarang.

Di bagian pertama penulis mengemukakan bahwa penghancuran buku dalam sawueo dimulai di Sumeria dimana di tempat itu pula buku muncul untuk pertama kalinya dalam peradaban manusia.

Berdasarkan temua Buku yang merupakan hasil penelitian Fernando Baez, seorang pakar perbukuan Venezuela selama 12 tahun ini memaparkan sejarah penghancuran buku berdasarkan kronologi waktu yang dibagi dalam tiga bagian, mulai dari jaman Dunia Kuno, dari Byzantium hingga abad ke 19, dan dari abad ke 20 Hingga Sekarang.

Berdasarkan temua arkeologis di tahun ada Temuan ini mengandung paradoks ; penemuan buku-buku paling awal juga menandakan penghancurannya yang paling perdana. Selanjutnya masih di bagian ini penulis mengungkap berbagai kejadian penghancuran buku di Mesir, Yunani, Israel, Cina, Romawi, beserta kisah berdiri dan runtuhnya perpustakaan Alexandria dan perpustakaan kuno lainnya.

Semua mengungkap bagaimana buku dihancurkan dengan berbagai cara. Amdrica mengejutkan fwrnandez terungkapnya bahwa filsuf terkenal Plato juga pernah membakar buku “Laersius yang mengenal baik kepustakaan Plato, menuduhnya sebagai bibliokas istilah untuk para perusak buku yang mencoba menghabisi risalah-risalah Demokritus, seorang penulis yang sama sekali tak hendak disitir oleh Plato.

Untuk menegaskan kecenderungan henak membakar teks-teks tertentu ini, Laersius juga mengatakan bahwa Saueo, semasa mudanya, seusai kontes di Teater Dionisisu, menemui Sokrates dan membakar puisi-pusisinya” hlm 47 Di bagian kedua, di era Byzantium hingga abad ke 19 terungkap bahwa era perang Salib tidak hanya menyebabkan korban jiwa yang besar melainkan turut hancurnya manuskrip dan buku-buku berharga.

Ini tidak hanya dilakukan oleh salah satu pihak saja, kedua pihak baik dari Pasukan Kristen maupun Islam secara berbalasan menghancurkan e dan buku-buku ketika mereka berhasil menaklukkan wilayah lawannya.

New & Used Books, Cheap Books Online | Half Price Books

Pada pasukan Perang Salib menghancurkan Perpustakaan Zahiriya di Damaskus, lebih dari 3 juta xultural dimusnahkan. Juli di Tipoli pasukan Kristen membakar Buku-buku dibuang setelah terlebih dahulu permata yang ditempel di sampulnya dicongkel dan Semua buku yang dianggap sesat dibakar di muka umum, bahkan tidak hanya buku, penulisnyapun kerap dibakar bersama dengan buku-bukunya yang ia tulis. Khusus mengenai penghancuran buku yang dilakukan oleh otoritas gereja, penulis membahasnya dalam bagian tersendiri.

Inkuisisi merupakan lembaga hukum keagamaan paling berkuasa yang pernah didirikian untuk menumpas perbedaan pemikiran di seluruh Eropa. Di masa ini sensor, penangkapan, penyiksaan,dan penghancuran terhadap buku yang dianggap bidah terjadi secara merajalela Pada tahun saat pemerintahan Paus IV disusunlah daftar buku yang paling membahayakan iman yang diberi nama Index Librorum Probiturum atau Indeks Buku-buku Terlarang yang melarang buku-buku karya penulis untuk memudahkan para Inkuisitor dalam menjalankan tugasnya.

Alkitab dalam bahasa lokal, novel-novel ksatria, serta karya-karya ilmiah dan politik. Penerbit terus menerus diawasi, para pedagang tidak dapat berjualan buku sebelum stock mereka didaftar, dan cultjral pribadi diperiksi secara cermat. Apa yang dilakukan Nazi ini seolah mengaminkan pendapat Heinreich Heine dalam karyanya Almansor “Dimanapun mereka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia” Dan memang seperti itulah yang terjadi setelah buku-buku dibakar.

  ISO 21457 PDF

Gunungan buku-buku yang dilalap api mengilhami tungku-tungku krematorium kamp konsentrasi” hlm Selain tentang Nazi yang membakar buku di bagian ini juga kita akan menemui bagaimana buku dihancurkan dan disensor di Cina, Df Soviet, Spanyol, Chile, Argentina, Bosnia hingga penhancuran situs budaya dan penjarahan buku secara besar-besaran yang terjadi di Irak paska jatuhnya rezim Sadam Hussein.

Penghancuran situs-situs budaya dan buku di Irak kini mendapat sorotan dunia. Berdasakan laporan pustakawan Irak hampir satu juta buku lenyap dalam penjarahan dan pembakaran. Ironis karena di Irak lah tempat buku pertama di dunia dilahirkan.

Di sini pemerintah AS dianggap gagal melindungi situs-situs budaya dan buku-buku dari propaganda kebencian dan penjarahan dari rakyat Irak sendiri “Irak adalah sebuah bangsa yang telah kehilangan sebagian besar ingatannya.

Buku-bukunya kini menjadi abu, karya-karya budayanya dijual di pasar. Irak adalah korban pertama pemusnahan kebudayaan pada abad ke” hlm Demikianlah buku ini merangkai sejarah penghancuran buku dari masa ke masa.

Walau Indonesia memiliki sejarah panjang juga tentang pemberangusan buku, namun dalam buku ini hanya disebutkan satu kasus saja yaitu yang terjadi di tahun “Atas alasan yang lebih politis, pada pihak berwenang di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, Indonesia juga membakar lebih dari Buku-buku itu tidak sejalan dengan sejarah versi pemerintah tentang usaha kudeta tahun di Indonesia, yang selama puluhan tahun dikambinghitamkan pada orang-orang komunis” hlm Membaca sejarah penghancuran buku lewat paparan Fernando Baez di buku ini kita akan melihat bahwa sejak buku pertama dibuat orang sudah menyadari pengaruh dahsyat dari buku.

Karenanya ketika sebuah negara merebut negara lain maka langkah selanjutnya setelah mendudukinya adalah memusnahkan ingatan dan budaya daerah kekuasaannya dengan cara membakar buku-buku yang ada. Tidak hanya membakar buku, di buku ini kita akan menemukan metode lain penghancuran buku lainnya seperti membuang buku ke laut atau sungai, dijadikan bahan bakar pemandian umum, dilemparkan keluar jendela agar dipakai tuna wisma sebagai penghangat badan, dihapus tintanya untuk ditulis kembali menjadi buku baru, sebagai pembungkus mesiu atau mercon, hingga dijadikan sebagai alas kaki.

Selain oleh manusia buku ini juga membahas musuh alami buku yaitu iklim dan keasaam kertas pada buku yang mudah hancur karena iklim. Hal ini menjadi perhatian para pustakawan dunia, Millicent Abell dari Perpustakaan Yale memperkirakan sekitar 76 juta buku di seluruh Amerika Serikat tengan berubah menjadi debu dalam arti harafiahnya. Selain karena iklim, serangga juga berperan dalam hancurnya buku, di buku ini penulis mendaftar berbagai jenis serangga penghancur buku antara lain semut tukang kayu, Componotus, serannga yang tergolong paling rakus dan mampu membuat “terowongan” antar buku yang dijajar di atas rak.

Akhir kata buku yang dipersiapkan selama lebih dari 12 tahun dengan riset yang mendalam yang terepresentasikan dengan begitu rincinya penulis memaparkan sejarah penghancuran buku yang bersumber lebih dari buku yang dicatat dalam 30 lembar halaman dafar pustaka buku ini, maka buku ini layak dijadikan sumber referensi mengenai sejarah penghancuran buku di dunia, karena seperti yang ditulis Fernando Diaz dalam pendahuluannya, “Selama 55 abad buku telah dimusnahkan, dan kita sama sekali tidak tahu apa sebabnya.

Ada ratusan kajian mengenai asal mula buku dan perpustakaan, tapi tidak ada satupun sejarha mengenai penghancurannya. Sayangnya buku ini tidak menyertakan daftar indeks sehingga pembaca akan mengalami kesulitan jika kita ingin mencari secara cepat sebuah nama, tempat, judul buku,dll yang terkandung dalam buku ini.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari buku ini? Dari sejarah penghancuran buku selama 55 abad yang ditulis dalam buku ini kita akan melihat bahwa selalu ada usaha dari manusia untuk menghancurkan buku yang dianggap membahayakan atau tidak sesuai dengan keyakinannya. Jadi bagaimana kita menyelamatkan isi buku dari para penjagalnya? Hanya ada satu cara yaitu dengan membacanya! Fisik buku bisa dihancurkan, tapi isi buku yang terekam dalam ingatan sulit untuk dihapus selama manusia masih dalam keadaan hidup.

Author: admin